Rabu, 13 Januari 2016

DAMPAK BIAYA PENDIDIKAN INDONESIA YANG MAHAL (Part II)

Jika kita membicarakan dampak  biaya pendidikan mahal tentu ada dampak positif maupun negatifnya. Di artikel sebelumnya saya membahas salah satu dampak negatif dari biaya pendidikan yang mahal. Di sisi lain ada juga dampak positif dari biaya pendidikan yang mahal seperti

1.            Adanya Dana Yang Cukup Untuk Menunjang Aktivitas Sekolah

Ini adalah keunggulan mutlak yang dimilki sekolah yang bertarif tinggi. Dengan banyaknya uang yang didapat maka tentu uang untuk menjalankan aktivitas siswa menjadi lebih terjamin. Misalnya saja untuk kegiatan ekstrakurikuler  tentunya sekolah dapat memanggil pelatih atau instruktur ekstra yang benar benar berkualitas untuk mendukung minat dan bakat siswa. Selain itu fasilitas sekolah untuk kegiatan siswa-siswinya juga sangat mendukung contohnya seperti peralatan drumband, kostum untuk dance maupun drama karena adanya biaya yang lebih. Kemudian perawatan barang-barang tersebut juga terjamin.

2.             Sekolah Membuat Lingkungan Yang Baik

Jika anda ingin sukses bergaulah dengan orang sukses. Ini bukan untuk anda memilih milih teman dalam berteman tapi agar anda punya perkumpulan yang tujuan nya jelas dan sama dengan anda sehingga tujuan itu lebih mudah untuk diraih apalagi kalau dengan dukungan teman. Dengan bersekolah di sekolah yang mahal maka tentu yang bersekolah di tempat tersebut rata rata orang yang keadaan ekonomi nya baik. Dan orang tua mereka bisa dibilang sukses dalam bidang finansial. Tentu kalau lingkungan seperti ini sangat baik untuk mendukung pekerjaan anda kelak jika butuh partner kerja.

3.             Sekolah Memberikan Tenaga Profesional

Sekolah yang mahal tentu berdampak pada tenaga pengajar yang dipilih secara selektif dan baik. Biasanya skill nya lebih baik dari sekolah pada umumnya. Memang itu lah salah satu hal yang "dijual" oleh sekolah favorit ataupun sekolah mahal yang ada.

4.             Anak Akan Cenderung Rajin Belajar Karena Adanya Rasa Tanggung Jawab

Dengan mahalnya biaya pendidikan biasanya juga mempengaruhi kondisi psikologis sang anak. Ia akan menjadi lebih rajin belajar dan mempunyai tanggung jawab yang besar karena biaya yang harus dibayar sangat banyak. Sehingga ia harus benar-benar serius belajar dan tidak main-main agar hasil belajarnya sebanding dengan jumlah biaya sekolahnya.



Biaya pendidikan yang mahal memang mempunyai dampak positif dan negatif. Namun tidak semua orang setuju karena jika dilihat dari segi perekonomiannya, mereka yang termasuk golongan menengah keatas mungkin akan sependapat  jika biaya pendidikan di Indonesia mahal karena itu juga akan berdampak dengan fasilitas dan kulitas sekolah yang bagus. Tetapi bagi mereka yang perekonomiannya tergolong rendah pasti akan berpikir ulang mengingat biaya sekolah yang tidak sedikit. Ini menjadi PR bagi pemerintahan Indonesia untuk mencari jalan tengah supaya semua anak Indonesia bisa mengenyam pendidikan dengan adil sehingga sekolah tidak hanya untuk mereka yang berduit saja tetapi mereka yang tidak memiliki biaya padahal mereka mempunyai keinginan kuat untuk bersekolah tetap bisa mengenyam pendidikan.



Anggiani Sukma Putri
15321064
B

Selasa, 12 Januari 2016

PENYEBAB PENDIDIKAN MAHAL DI INDONESIA
Mahalnya Biaya Pendidikan di Indonesia !
Bangsa yang maju adalah bangsa terdidik. Tentunya melalui sekolah. Dengan sekolah, seseorang bisa terdidik. Setiap orang tua pasti berkeinginan menyekolahkan anaknya. Namun, kesempatan bersekolah tidak semua dimiliki anak-anak bangsa ini. Alasannya biaya sekolah mahal. Sebuah alasan klasik, berkisar itu-itu saja dari tahun ke tahun.
KEADAAN demikian memang sebuah elegi sekaligus menjadi ironi yang memprihatinkan, sebab bangsa ini maju tentunya dengan pendidikan. Tapi, kesempatan menikmati pendidikan formal hanya untuk orang-orang berduit. Konstitusi memberikan kesempatan yang sama bagi setiap warga negara, namun dalam ranah realitas jelas menjadi fakta sebuah ketidakadilan.
Biaya sekolah yang mahal menjadi berita yang traumatik bagi warga yang tidak mampu, walau mereka sadar mengikuti pendidikan menjadi bagian hak setiap warga negara. Tapi, ketidakberdayaan akibat masih bergelut dengan kemiskinan menjadi sebuah fakta anak-anak bangsa yang tidak bersekolah atau putus sekolah.

Dari total 100 persen siswa Sekolah Dasar, hanya 61 persen yang melanjutkan ke tingkat Sekolah Menengah Pertama Bahkan dari jumlah tersebut, lanjutnya, hanya 2persen siswa yang melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi. Keadaan ini tentunya harus segera diatasi dengan memberikan jaminan pendidikan bagi setiap anak.Dengan adanya jaminan pendidikan ini, Dirinya mengatakan, anak tidak akan mengalami putus sekolah karena tingginya biaya pendidikan. Hal ini juga dapat mengatasi masalah besarnya jumlah siswa yang tidak diterima di sekolah negeri karena keterbatasan kapasitas.
Gambaran demikian, seolah menerjemahkan kepada publik bahwa anak orang miskin, anak petani, anak nelayan, anak buruh tidak berhak mengenyam pendidikan tinggi. Mereka hanya berhak sekolah sampai setingkat SMP saja. Akhirnya yang miskin tak beranjak dari kemiskinannya serta yang bodoh tak keluar dari lingkaran kebodohan yang mengungkungnya. Calon mahasiswa yang akan masuk perguruan tinggi negeri membuat traumatis bagi rakyat yang tak mampu. Mereka tak mungkin siap menanggung beban biaya pendidikan yang harganya mahal. Sewajarnya memang komersialisasi pendidikan yang selalu diributkan oleh mahasiswa.
Pendidikan saat ini sudah jadi barang mewah. Boleh dibilang pendidikan harganya seperti barang kebutuhan tersier saja, mahal sungguh mahal. tentunya cuma mereka yang berkantong tebal yang bisa nangkring di PTN. Sementara buat kebanyakan rakyat negeri ini yang memiliki penghasilan rata-rata yang masuk kategori kelas menengah ke bawah, bagai pungguk naik ke bulan alias hanya merajut mimpi saja.Biaya pendidikan yang mahal, sebuah anomali dari tujuan bangsa yang termaktub dalam konstitusi Negara yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. 


Damar Aziz Prasidya
15321071
Kelas B

Korupsi Dalam Pendidikan





Tindakan korupsi bukan hanya terjadi dalam kasus perekonomian politik saja, tetapi dalam kasus bidang pendidikan juga sangat merajarela. Seperti kasus ‘penyuapan’ yang sering terjadi, ketika penerimaan siswa baru, bahkan pada penerimaan PTN.
Pertama, dalam penerimaan siswa baru. Memasuki sekolah negeri merupakan hak seluruh warga negara muda, selai mendapat subsidi dari pemerintah, kualitas sekolah juga cukup terjaga. Akhirnya banyak minat yang tinggi dari warga yang akan mengambil tindakan ‘penyuapan’ disekolah. Seharusnya dalam setiap sekolah negeri, harus memiliki sistem pengawasan untuk mencegah terjadinya tindakan korupsi. Tetapi apa gunanya jika diterapkannya sistem pengawasan tersebut tetap menimbulkan tindakan korupsi berupa ‘penyuapan’. Karena pihak yang berwenang didalam sekolah justru yang mempersilahkan masuk tindakan ‘penyuapan’ tersebut. Tindakan tersebut bukan hanya terjadi pada penerimaan siswa baru disekolah negeri saja, tetapi juga sering terjadi pada penerimaan mahasiswa di perguruan tinggi negeri.
Kedua, dalam kasus ‘penyuapan’ yang terjadi dalam penerimaan siswa baru disekolah negeri ataupun penerimaan mahasiswa baru di PTN itu tidak main-main dalam menyebutkan nominal yang harus dikeluarkan. Bahkan dalam nominal tersebut tidak hanya masuk ke dalam sekolah negeri atau perguruan tinggi negeri itu sendiri, tetapi juga ada yang masuk kedalam kebutuhan pribadi milik pihak-pihak yang berwenang didalam pendidikan tersebut.
Lalu bagaimana cara meminimalisirkan tindakan korupsi dalam pendidikan tersebut? Karena tindakan ‘penyuapan’ tersebut sama halnya yang menyebabkan adanya pendidikan mahal yang terjadi di Indonesia. Jadi, kesalahan ini dari pemerintah sendiri yang kurang mengawasi jalannya pendidikan di Indonesia? Atau kesalahan dari pihak yang berwenang didalam pendidikan di Indonesia?

Bagaimana menurut anda tentang tindakan korupsi didalam pendidikan di Indonesia? Siapa yang menyebabkan kesalahan tersebut? 


NADYA SAFIRA
15321079
B

DAMPAK BIAYA PENDIDIKAN INDONESIA YANG MAHAL

Banyak dampak yang ditimbulkan karena biaya sekolah yang sangat mahal. Salah satu contohnya adalah pengamen yag sering kita jumpai di jalanan terutama traffic light. Mereka memutuskan untuk pergi ngamen dibanding pergi ke sekolah alasannya karena biaya sekolah yang semakin mahal. Berdasarkan data UNICEF, sebanyak 2,5 juta anak Indonesia yang seharusnya bersekolah tidak dapat menikmati pendidikan. Data statistik tingkat provinsi dan kabupaten menunjukkan bahwa terdapat kelompok anak- anak tertentu yang terkena dampak paling  rendah. Sebagian besarnya,  berasal dari  keluarga miskin, sehingga  tidak mampu melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya. Bisa dilihat di Indonesia banyak anak-anak kecil yang berkeliaran dijalanan, mereka mondar mandir tanpa peduli akan adanya mobil atau motor yang berlalu lalang yang sewaktu-waktu bisa menabrak mereka. Mereka rela panas-panasan dijalanan hanya untuk mendapatkan uang untuk makan dan membeli kebutuhan mereka. Dan mungkin uang dari hasil mengamen tersebut tidak cukup untuk memenuhi keduanya. Bahkan tidak banyak dari mereka yang terlibat tindakan kriminalitas. Semua itu karena kegiatan mereka yang hanya pergi ngamen dan dorongan untuk mendapat penghasilan yang lebih. Karena pengetahuan mereka kurang, sehingga kebanyakan dari mereka tidak bisa membuka usaha atau berjualan. Padahal jika mereka bersekolah minimal lulusan SMA, mereka mungkin bisa mendapat pekerjaan yang layak dan menghasilkan uang lebih. Mengapa bisa begini? Ini semua adalah salah satu dampak biaya sekolah mahal sehingga kebanyakan dari mereka yang perekonomiannya kurang, lebih memilih untuk ngamen dijalanan dan sebagainya. Tercatat sebanyak 155.965 anak berkeliaran dijalan dan tidak pergi sekolah. Itu artinya sebanyak 155 ribu anak Indonesia tidak bersekolah dan ini adalah jumlah yang sangat mengkhawatirkan. Karena, itu artinya masih banyak sekali anak Indonesia yang tidak mengecap pendidikan. Dan ini akan berdampak buruk bagi bangsa Indonesia karena masa depan bangsa Indonesia ada di tangan mereka. 




Anggiani Sukma Putri
15321064
B

Jumat, 08 Januari 2016

Diskriminasi dalam Pendidikan


Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan latihan bagi peranannya dimasa yang akan datang. Pendidikan itu tidak saja memainkan peran penting dalam mencerdaskan manusia secara intelektual, tetapi juga merupakan sarana pembentukan sejati berkarakter baik, bermoral, berwawasan luas serta 'penyetaraan'. Hal yang terakhir ini adalah yang paling jarang dibahas. Yang saya maksud tentang 'penyetaraan' disini adalah, adanya peran pendidikan dalam memberikan kesamaan dan kesetaraan manusia dalam hal martabat dan kedudukan sosial di masyarakat. Seperti misal contoh nyata dari jaman kolonial Belanda, perempuan tidak dibolehkan bersekolah agar perempuan tidak bisa melawan pemerintah kolonial Belanda layaknya laki-laki. Namun, ketika Raden Ajeng Kartini berjuang untuk pendidikan kaum perempuan, makan lahirlah kaum perempuan yang diperbolehkan untuk bersekolah dan ikut memperjuangkan untuk melawan Belanda.
Namun, bagaimana jika pendidikan sekarang ini dianggap sebagai sarana meninggikan diri bukan untuk memajukan kesejahteraan bangsa ini? Ketika pendidikan semakin maju, maka pendidikan itu pula semakin mahal. dan ketika pendidikan itu mahal, terjadilah kesimpangsiuran yang mudah terjadi. terutama dalam hal 'penyetaraan'. Misalnya, ketika seorang anak masuk ke dalam jurusan favorit maka timbulah ketidaksetaraan disana. Lalu ketika seorang anak yang orang tuanya adalah seorang pejabat atau gubernur maka timbulah juga ketidaksetaraan disana. Istilah tepat yang lainnya adalah ‘Diskriminasi’. Pendidikan yang seharusnya memiliki tujuan untuk menyetarakan umat manusia, justru malah menjadi sarana untuk menindas dan merendahkan sesama.
Dalam membahas masalah ini lebih dalam, saya mengingat kembali permasalahan kesetaraan dari lingkungan SMA. Pasti sering terjadi diskriminasi didalam pendidikan SMA. Bukanlah fenomena baru tetapi merupakan fenomena lama. Ketika seorang siswa memilih jurusan IPS itu kebanyakan dari pandangan guru, jurusan IPS merupakan jurusan yang tidak sebanding dengan jurusan IPA. Karena para guru kebanyakan mempersepsikan bahwa jurusan IPS itu memiliki masa depan yang suram, karena lapangan pekerjaan yang sedikit dan anak-anaknya nakal juga susah diatur. Sedangkan jurusan IPA dianggap sebagai jurusan dengan anak-anaknya yang cerdas, memiliki masa depan cerah, dan kumpulan anak-anak alim. Padahal tugas dari seorang Guru itu sendiri adalah untuk membantu dalam membentuk karakter seorang siswa didalam dunia pendidikan. Dan tindakan diskriminatif yang dilakukan oleh kebanyakan para guru dijaman sekarang itu sangatlah TIDAK PANTAS.

Saya mengharapkan bahwa jangan ada lagi diskriminasi dalam dunia pendidikan. Setiap ilmu itu memiliki perannya masing-masing dalam kehidupan manusia, saling melengkapi, sama derajat dan sama pentingnya. Berusaha kembali lagi ke tujuan utama adanya pendidikan yang sebenarnya. Pendidikan itu untuk kesetaraan bukan penindasan. Hal-hal yang berbau diskriminatif dalam dunia pendidikan tidak selayaknya dipertahankan dan dibudayakan. Hendaknya para pelaku pendidikan bukan sekedar menonton saja, tetapi mulailah reformasi baru dari dalam sendiri dan kepada lingkungan pendidikan disekitar. Agar terciptanya kembali dunia pendidikan yang memiliki kesetaraan yang adil, dan mencapai satu tujuan yaitu untuk mensejahterakan bangsa ini.


Nadya Safira
15321079
B

Kamis, 07 Januari 2016

PENDIDIKAN MAHAL DI INDONESIA

 

Latar Belakang
Pendidikan adalah hal yang utama untuk memajukan bangsa. Menjadi bangsa yang maju tentu merupakan cita-cita yang ingin di capai oleh setiap negara di dunia. Sudah menjadi suatu rahasia umum bahwa maju tidaknya suatu negara di pengaruhi oleh faktor pendidikan. Pendidikan merupakan proses mencetak generasi penerus bangsa yang berkualitas. Indonesia adalah salah satu Negara berkembang di dunia yang masih mempunyai masalah besar dalam dunia pendidikan. Kita mempunyai tujuan bernegara mencerdaskan kehidupan bangsa yang seharusnya jadi sumbu perkembangan pembangunan kesejahteraan dan kebudayaan bangsa. Yang kita rasakan sekarang adalah adanya ketertinggalan didalam mutu pendidikan. Rendahnya mutu pendidikan menghambat penyediaan sumber daya menusia yang mempunyai keahlian dan keterampilan untuk memenuhi pembangunan bangsa di berbagai bidang.
Salah satu faktor dan masalah penghambat pendidikan di indonesia adalah mahalnya biaya pendidikan di indonesia yang tidak sesuai dengan fasilitas yang kita dapat serta kualitas pengajar yang kurang profesional dan tanggung jawab dalam menjalankan tugasnya. Maka disini penulis mencoba untuk menjabarkan salah satu faktor dan masalah penghambat pendidikan di indonesia ini.
1.Mahalnya biaya pendidikan
Pendidikan di Indonesia menjadi sulit bagi mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan. Mayoritas penduduk Indonesia yang berada di bawah garis kemiskinan mengakibatkan terbengkalai nya mereka dalam hal pendidikan. Selain kemauan mereka yang tidak pernah tumbuh dan sadar akan pendidikan, faktor ekonomi menjadi alasan utama  mereka untuk tidak menyentuh dunia pendidikan, Salah satu contoh dari kasus mahalnya biaya pendidikan ini adalah anak-anak yang putus sekolah bahkan ada yang tidak sempat merasakan dunia pembelajaran, dengan begitu mereka bekerja sebagai pengemis di jalanan ataupun sebagai pengamen.
2.Fasilitas pendidikan yang kurang memadai
Yang menjadi permasalahan pendidikan di Indonesia adalah fasilitas pendidikan yang masih kurang memadai. Banyak sekolah-sekolah yang bangunannya sudah hampir rubuh, tidak memiliki fasilitas penunjang seperti meja belajar, buku, perlengkapan teknogologi, dan alat-alat penunjang lainnya yang menyebabkan pendidikan tidak dapat berkembang secara optimal. Untuk Sarana Fisik Misalnya, Banyak Sekali Sekolah Dan Perguruan Tinggi Kita Yang Gedungnya Rusak, Kepemilikan Dan Penggunaan Media Belajar Rendah, Buku Perpustakaan Tidak Lengkap. Sementara Laboratorium Tidak Standar, Pemakaian Teknologi Informasi Tidak Memadai Dan Sebagainya. Bahkan Masih Banyak Sekolah Yang Tidak Memiliki Gedung Sendiri, Tidak Memiliki Perpustakaan, Tidak Memiliki Laboratorium Dan Sebagainya.
3.Rendahnya Kualitas Pengajar
Keadaan pengajar Di Indonesia Juga Amat Memprihatinkan. Kebanyakan pengajar Belum Memiliki Profesionalisme Yang Memadai Untuk Menjalankan Tugasnya, Bukan Itu Saja, Sebagian pengajar Di Indonesia Bahkan Dinyatakan Tidak Layak Mengajar. Walaupun Pengajar Bukan Satu-Satunya Faktor Penentu Keberhasilan Pendidikan. Tetapi, Pengajaran Merupakan Titik Sentral Pendidikan Sebagai Cermin Kualitas, Tenaga Pengajar Memberikan pengaruh Sangat Besar Pada Kualitas Pendidikan Yang Menjadi Tanggung Jawabnya. Kualitas Pengajar Yang Rendah Juga Dipengaruhi Oleh Masih Rendahnya Tingkat Kesejahteraan pengajar.
Solusi Pemecahan
Solusi yang dapat diberikan dari permasalahan di atas antara lain dengan mengubah sistem-sistem sosial yang berkaitan dengan sistem pendidikan. Pemerintah harus peka terhadap kondisi pendidikan di setiap daerah dan dapat mengambil langkah yang pasti untuk memperbaiki kualitas sesuai dengan kondisi daerah masng-masing. Tidak hanya pemerintah, tetapi masayarat juga harus bahu-bahu bersama pemerintah untuk dapat meningkatkan kesadaran bahwa pendidikan itu penting dan dapat selalu mengawasi kegiatan pendidikan di Indonesia. Perkembangan dunia di era globalisasi ini memang banyak menuntut perubahan kesistem pendidikan nasional yang lebih baik serta mampu bersaing secara sehat dalam segala bidang. Dengan meningkatnya kualitas pendidikan berarti sumber daya manusia yang terlahir akan semakin baik mutunya dan akan mampu membawa bangsa ini bersaing secara sehat dalam segala bidang di dunia internasional.
Ihsanty Novita Sarah
15321091
B

Senin, 04 Januari 2016

MIMPI YANG TERTUNDA



MIMPI YANG TERTUNDA
Denting piano yang merdu
Alunan warna hitam dan putih
Membantingkan angan dalam mimpi
Membentuk kedaulatan mimpi

Ketika dunia kami di hampar
Oleh deburan logam dan kertas
Membuat kami kehilangan
Angan, mimpi, dan harapan
Dunia yang kejam dan meronta

Lampiasan uang yang menggelora
Tanpa melihat lukisan hidup dan mimpi
Kemana kami harus pergi?
Membarakan hidup dan harapan
Lembaran merah tiap tahun meningkat

Kemanakah kami mengadukan?
Hidup, nasib, dan tujuan hidup kami
Ketika kemewahan dunia merampas
Dan kemegahan yang memimpin

Kami adalah butiran kerikil
Yang terhempas ombak mutiara
Terkubur dalam gundukan batu
Mengemis abdi megah untuk hidup kami

Kami tak punya permata
Untuk menaikkan tangga martabat
Hanya tertindih dan terhempas
Pemimpin negara..
Lihatlah kami, impian kami
Yang tertunda akan mahalnya pendidikan

Nama    : Atty Rahmalia Nurani
NIM       : 15321086
Kelas     : B